Air baku hidroponik menjadi salah satu komponen penting sebagai media pencampur nutrisi. Air baku adalah air murni yang belum tercampur nutrisi.
Sebagai media tanam, air baku terbaik untuk hidroponik memiliki nilai TDS atau PPM yang rendah. TDS atau PPM menunjukkan jumlah partikel terlarut dalam air. Semakin rendah PPM-nya, semakin murni air tersebut.
Beberapa ahli dalam bidang hidroponik di Indonesia, menyarankan PPM air baku maksimal 250. Ada juga yang menyarankan di bawah 100 PPM.

Perbandingan Air Baku Hidroponik dengan PPM Rendah dan Tinggi
Tinggi rendahnya PPM air baku, mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Melansir dari video YouTube @Arton Channel, PPM air baku mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Air baku dengan PPM rendah lebih direkomendasikan, terutama untuk hidroponik skala produksi. PPM tinggi mempengaruhi kestabilan pH air nutrisi. Air dengan PPM rendah tidak perlu diatur ulang pH-nya, cukup mengandalkan pH buffer dari nutrisi. PPM tinggi menyebabkan endapan. Hal ini berbahaya bagi sistem hidroponik dengan irigasi tetes karena bisa menyumbat saluran.
Dalam sistem hidroponik, air baku bisa menggunakan air hujan dan air tanah. PPM air tanah cenderung tinggi karena mengandung garam atau NaCl. Untuk pH kedua jenis air baku (air hujan dan air tanah), sudah masuk dalam rentang ideal.
Untuk memulai budidaya sayur atau tanaman pangan dengan sistem hidroponik, bisa memberikan nutrisi 1000 PPM. Karena PPM air tanah sekitar 800, maka total nutrisi menjadi 1800 PPM.
Pada beberapa percobaan hidroponik, tanaman dengan air baku PPM rendah tampak lebih besar. Dari segi akar, perbedaannya sangat jelas. Akar tanaman dengan air PPM rendah tampak lebih banyak dan sehat.
Kondisi air nutrisinya juga berbeda. Air dengan PPM rendah terlihat bening, sedangkan PPM tinggi terdapat endapan.
Manfaat dan Cara Aman Menggunakan Air Hujan untuk Hidroponik
Seperti yang sudah disinggung di awal, air hujan dapat dijadikan sebagai air baku hidroponik. Namun, penggunaan air hujan sebagai air baku perlu diperhatikan supaya tetap aman untuk tanaman, sehingga tanaman bisa tumbuh bagus dan sehat.
Air hujan sebagai air baku harus memenuhi beberapa persyaratan. Salah satunya kisaran pH air yang sesuai.
Meski PPM rendah, pH air hujan kadang cukup tinggi. Ketika dilakukan pengukuran, PPM-nya hanya 8, sangat rendah dan baik untuk hidroponik. Namun, tetap perlu memastikan bahwa pH-nya ideal, yakni di bawah 7.
pH ideal untuk hidroponik biasanya antara 6,5 sampai 7. pH air hujan sekitar 6,9, tergolong aman dan cocok untuk hidroponik.
pH air hujan bisa berbeda-beda tergantung wilayah. Di daerah dengan polusi tinggi, pH air hujan bisa lebih ekstrim.
Bisa jadi terlalu tinggi atau bahkan terlalu rendah. Karena itu, sangat penting mengukur pH dan PPM sebelum digunakan.
Jika ingin menggunakan air hujan sebagai air baku hidroponik, ada baiknya diendapkan selama tiga sampai tujuh hari sebelum digunakan. Tujuannya untuk menstabilkan pH dan PPM-nya. Air hujan tidak disarankan langsung digunakan tanpa proses tersebut.
Mengatasi Tanaman Hidroponik Menguning dengan Air Hujan
Sebagian orang mengira tanaman hidroponik menguning karena kekurangan nutrisi. Padahal, hal ini disebabkan karena PPM air yang terlalu tinggi.
Salah satu cara mengatasinya adalah dengan mengganti air baku dengan air hujan. Jika tersedia, bisa tambahkan air hujan pada larutan nutrisi. Hasilnya, daun yang kuning perlahan kembali hijau dan sehat. Tanaman tumbuh subur, hijau, dan ukurannya besar.
Pada beberapa percobaan, air hujan lebih baik dari air sumur untuk hidroponik. Namun, tetap perlu kontrol nilai PPM dan pH sebelum digunakan.
Meski air hujan bagus untuk air baku hidroponik, tetap harus cek pH dan PPM-nya. Karena bisa saja berbeda antara satu daerah dengan daerah lain. Hal ini sangat dipengaruhi oleh tingkat polusi di lingkungan masing-masing. /endah



